Kamis, 15 Desember 2016

Tempat Ibadah Agama Hindu

Pura Jagatkarta, di Kaki Gunung Salak

Pura ini merupakan Pura terbesar di tanah jawa atau terbesar kedua di Indonesia setelah pura Besakih di Bali, dan tentunya menjadi kebanggan umat Hindu. Karena letaknya yang di kaki gunung membuat pura Jagatkarta memiliki udara yang segar dengan view yang sangat indah berlatar belakang gunung salak. 



Pura di Bali
Tidak seperti candi di Jawa, candi di Bali (disebut pura), menjadi bagian dari kehidupan Bali yang sebagian besar beragama Hindu. Kuil Hindu Bali adalah tempat ibadah Hindu di Kepulauan Bali. Setiap keluarga Hindu memiliki kuil keluarga untuk menyembah Hyang Widhi dan nenek moyang mereka, sehingga ada ribuan candi di pulau Bali.



Pura Jagatnatha, di Yogyakarta



Pura Pemacekan.Kabupaten Karanganyar, provinsi Jawa Tengah

Bali boleh menjadi pulau dengan seribu pura, tapi siapa sangka jika induk dari pura di sana malah berada di tanah Jawa, tepatnya ada di Kabupaten Karanganyar, provinsi Jawa Tengah. Inilah Pura Pemacekan atau lebih dikenal dengan nama Pura Pasek, suatu pura bercorak Hindu yang berdiri di kaki Gunung Lawu. Menurut Babad Bali, pura ini adalah induk dari pura-pura pasek lainnya yang ada di Bali.

Sebagian wilayah Kabupaten Karanganyar berada di kaki Gunung Lawu yang menganugerahinya pemandangan indah serta udara sejuk khas pegunungan. Namun dibalik kawasan-kawasan bergunung ini tersimpan banyak peninggalan sejarah khususnya dari masa kerajaan Majapahit. Kebanyakan peninggalan tersebut berupa candi dan pura yang diperkirakan berasal dari akhir masa kerajaan Majapahit yang kala itu dipimpin oleh Raja Brawijaya V dan salah satunya yang paling terkenal adalah Pura Pemacekan.



Pura Di Univ. Sebelas Maret

Apa yang anda pikirkan saat melihat foto diatas tersebut ? pasti anda berpikir ini adalah salah satu tempat ibadah yang ada di Bali.Tapi pura ini ternyata ada di Universitas Sebelas Maret Surakarta.Yapppsss..... Universitas Sebelas Maret atau yang lebih dikenal UNS.Universitas ini memiliki tempat ibadah untuk beragam agama yaitu masid Nurul Huda untuk agama muslim , Gereja  kristen untuk umat kristiani,Dan  Pura Buhana Agung Saraswati untuk umat hindu.


Arsitektur pura ini persis sekali dengan yang ada tempat ibadah di Bali.Mahasiswa yang beragama hindu dapat beribadah disini dengan khusyuk.


Simbol Agama Hindu

Anjali


yakni gerakan tubuh sebagai bentuk penghormatan dan salam, gerakannya ialah dengan menyatukan kedua telapak tangan dengan lembut dan dikuncupkan. Ketika tangan diletakkan didada, maka digunakan untuk menyapa orang yang lebih tua. Sedangkan jika tangan diletakkan diatas kepala, maka ditujukan untuk memberikan penghormatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.



Bindi atau Bindu


kebiasannya orang Hindu memakai tilak yakni titik merah pada wanita dan titik memanjang pada pria yang berada di dahi mereka. Titik ini dikenal dengan beragam nama seperti ajna cakra, mata spiritual, dan mata ketiga.



Trimurti

Fungsi: Pencipta / Utpathi Sakti: Dewi Saraswati yang merupakan dewi ilmu pengetahuan Senjata: Gada Simbol: A Warna: Merah
Fungsi: Pemelihara / Sthiti Sakti: Dewi Sri atau Dewi Laksmi Senjata: Cakra Simbol: U Warna: Hitam
Fungsi: Pelebur / Pralina Sakti: Dewi Durga, Uma, dan Parwati Simbol: M Warna: Manca Warna

Ganesha

Ganesha adalah simbol Sang Hyang Widhi yang berkepala seekor gajah, Ganesha merupakan kecerdasan kebijaksanaan, lambang dewa yang mampu dipuja untuk menyelesaikan segala rintangan.
Ganesha sebagai artian filosofi dapat dilihat pada bagian ini:




Kamper (camphor)

Hal ini memberikan perlambangan pengetahuan spiritual yang bisa memurnikan pikiran dari seorang pemuja sehingga meninggalkan ketidaksucian dalam pemikirannya.



Bilva

Daun Bilva ini begitu suci untuk melakukan pemujaan kepada Dewa Siwa.


Kelapa

Pada bagian kulit terluar yang lembut dan halus melambangkan tubuh manusia. Dan bagian kulit kelapa yang keras melambangkan sikap egoisme yang harus dipecahkan. Sedangkan air kelapa tersebut melambangkan jiwa manusia yang bersatu dengan Tuhan.




E-Book Agama Hindu

Bali Dwipa Catatan Perjalanan Spiritual Di Tanah Sakral

  Ada tujuh belas pembahasan yang diuraikan secara detail juga sesuai dengan judul buku tersebut tidak sedikit menyinggung perjalanan spiritual penulis. Disini saya akan menyebutkan apasaja yang di bahas disalam buku tersebut yaitu:
1.      Kelahiran Kembali Yang Buruk
2.      Pintu Gerbang Memasuki Jalan Dharma
3.      Mengenal Tuhan
4.      Para Ista Dewata
5.      Orang Suci Di Pasar
6.       Energi Kedamaian Dan Belas Kasih Mendalam Di Pulau Bali
7.       Dimensi Kosmik Tempat Suci Tantra
8.       Vegetarian
9.       Sadhana Abhaya Yadnya
10.    Menghadapi Serangan Black Magic Dengan Jalan Belas Kasih
11.  Kerauhan
12.  Orang Melik
13.  Bunuh Diri
14.  Menggugurkan Kandungan
15.  Sistem Sadhana Seringkas-ringkasnya Tapi Lengkap Dan Sangat Terang Bercahaya
16.  Marga Sunia / Jalan Hening
17.  Kelahiran Kembali Yang Baik


Catur Yoga Empat Intisari Utama Sadhana Dharma


  Apapun jalan religius atau jalan spiritual yang kita tempuh, Catur Yoga adalah empat sadhana yang menjadi intisari dari semua sadhana. Karena Catur Yoga yang akan menjadi penjaga, pelindung dan pembimbing paling menentukan bagi perjalanan spiritual kita menuju kesadaran sempurna dan kemahasucian.
Sekalipun anda hanya orang biasa atau orang awam, atau bahkan tidak beragama Hindu sekalipun, bila anda secara sungguh-sungguh melaksanakan Catur Yoga dalam kehidupan sehari-hari, anda juga seorang sadhaka yang sedang menempuh jalan suci menuju kesadaran sempurna dan kemahasucian. Seiring waktu dampaknya pasti akan mulai bermunculan. Setelah Catur Yoga mulai membadan dalam keseharian, dampak pertama yang dihasilkan adalah hidup kita akan menjadi lebih tenang, damai dan bahagia dibandingkan kalau kita tidak melaksanakannya. Yang pertama-tama merasakan kedamaian adalah diri kita sendiri, kemudian keluarga dan orang-orang dekat.


1 Menyatu Dengan Tarian Kosmik Alam Semesta Rangkuman Sebuah Perjalanan Spiritual



  Buku ini merupakan ringkasan dari puncak perjalanan spiritual penulis selama jangka waktu 14 tahun [2002 – 2016] menapaki jalan spiritual dharma. Suatu praktek spiritual jangka panjang, berlandaskan kepada ajaran Tantra dan Upanishad, yang dipadukan dengan penggalian kesadaran ke dalam diri. Suatu pengalaman langsung yang dituangkan ke dalam buku sederhana ini sebagai ajaran dharma.
      Untuk lebih jelasnya silahkan klik di sini

1  Moksha Puncak Kesadaran Diri dan Penyatuan Kosmik



  Tujuan hidup tertinggi dalam ajaran Hindu Dharma adalah menyadari kenyataan diri yang sejati [Atma], sehingga Atma dapat terbebas dari siklus
samsara dan mencapai Moksha. Sayangnya bagi kebanyakan manusia, jarak
pandang penglihatannya teramat sangat terbatas, sehingga yang terlihat hanyalah kenikmatan indriya, kehormatan, harga diri, keuntungan, harta kekayaan, wujud dan bentuk. Hal inilah yang telah mengundang banyak manusia enggan melaksanakan dharma dan malah menciptakan berbagai karma buruk tanpa menyadari akibatnya kelak yang membawa kesengsaraan.
Dalam hidup ini kita sering melihat kenyataan yang sulit dipahami. Orang-orang baik     yang menderita dan orang-orang jahat yang tidak kekurangan suatu apapun. Selain itu banyak orang yang menderita sejak dilahirkan, baik karena kekurangan secara fisik maupun kekurangan mental. Mengapa mereka sengsara dan mengapa hal itu terjadi ? Hukum Karma menjelaskan bahwa diri kita sendirilah yang menentukan garis nasib kita. Jika dalam kehidupan sebelumnya kita banyak membuat karma buruk, maka hidup kita disaat ini akan berat dan sengsara. Jika dalam kehidupan sebelumnya kita banyak membuat karma baik, maka hidup kita disaat ini akan banyak kemudahan dan bahagia.
Lahir dan hidup sebagai manusia itu penuh dengan dinamika. Setiap hari kejadian yang datang itu macam-macam, naik-turun dengan berbagai dualitas kebahagiaan-kesengsaraan di dalamnya. Coba kita renungkan kejadian yang umum dalam sehari-hari ini, misalnya pagi-pagi kita mesra dengan istri, siangnya istri ngomel-ngomel menyakitkan, malamnya kita kena sakit flu. Pagi-pagi pekerjaan kita dipuji-puji oleh atasan, siangnya klien complain, sorenya ketika pulang kerja ban kendaraan kita pecah. Banyak sekali contoh kejadian lainnya dalam kehidupan. Hidup selalu berada dalam dinamika naik-turun dengan berbagai dualitas kebahagiaan-kesengsaraan di dalamnya. Umumnya hanya persoalan waktu kita sebagai manusia terjerumus ke dalam lubang perangkap kehidupan. Kita yang sudah menikah kemudian cari istri lagi, itu masuk perangkap. Kita tidak puas dengan gaji kemudian kita korupsi, itu masuk perangkap. Kita tidak puas dengan suami atau istri kemudian selingkuh atau minta cerai, itu masuk perangkap. Kita tidak puas dengan atasan lalu kerja malas-malasan, itu masuk perangkap. Tentu masih banyak sekali contoh lainnya dalam kehidupan. Kita hanya akan menyakiti dan melukai diri kita sendiri maupun orang lain. Ujung-ujungnya kelak diri kita sendiri akan sulit keluar dari jurang kegelapan dan kesengsaraan.
Dengan kata lain, sangat-sangat mendesak bagi kita sebagai manusia untuk segera ”sadar”, karena kita dikelilingi oleh berbagai lubang perangkap kehidupan. Jika kita salah melangkah, cepat atau lambat kita akan terbawa masuk ke dalam jurang kesengsaraan.
Dalam perjalanan kehidupan ini manusia itu “svatantra katah”, yaitu mahluk yang sepenuhnya bebas, memiliki kehendak bebas dan sekaligus bertanggung jawab atas semua pilihan perbuatannya sendiri. Diri kita sendiri-lah yang sepenuhnya merancang dan menentukan jalan kehidupan kita sendiri. Kita memiliki peluang yang sangat besar untuk memperoleh kebahagiaan dan ketenangan hidup. Tergantung pilihan kita sendiri, bagaimana pilihan kita untuk bersikap dan bertindak dalam hidup ini adalah yang pada akhirnya akan menentukan kita memperoleh kebahagiaan, kedamaian dan ketenangan hidup atau sebaliknya bertemu dengan kesengsaraan.
Agar kita tidak salah di dalam mengarahkan hidup ini kita memerlukan petunjuk jalan yang terang melalui ajaran Hindu Dharma. Karena hanya dengan begitu kelak seluruh kesengsaraan bisa dilenyapkan. Demikianlah tujuan penulisan buku ini, adalah agar penganut Hindu memiliki sebuah buku panduan akan tujuan tertinggi dari hidup ini. Sebuah buku yang berusaha dibuat seringkas ringkasnya, tapi sekaligus juga mendalam. Dengan bahasa yang mudah dipahami dan bisa langsung dipraktekkan.
Apa yang ditulis dalam buku ini bersumber dari rangkaian panjang proses belajar dan membina diri, baik melalui belajar dari Satguru, praktek meditasi, perjalanan tirtayatra, membaca puluhan buku-buku suci, serta diskusi-diskusi dengan banyak Satguru. Semua itu kemudian dirangkum ke dalam buku ini. (Sumber: https://www.scribd.com/document/334349127/Moksha-Puncak-Kesadaran-Diri-Dan-Penyatuan-Kosmik)


1   Panduan Ringkas Mantra Yoga


Alur perjalanan kehidupan merupakan sebuah perjalanan evolusi kesadaran bagi setiap mahluk. Dalam kehidupan ini kita diharapkan untuk mempelajari dan memiliki pemahaman mengenai hukum-hukum alam semesta terkait kehidupan [hukum karma dan siklus samsara]. Jika kita memiliki pemahaman dan mampu selaras terhadap hukum-hukum tersebut kita akan dilahirkan kembali dalam satu keberadaan yang lebih tinggi dan bahagia. Sebaliknya jika kita melakukan pelanggaran terhadap hukum-hukum tersebut, kita akan dilahirkan kembali dalam satu keberadaan yang menyedihkan. Kehidupan sebagai manusia terletak di tengah-tengah dan cukup riskan, karena di satu sisi pintu menuju kelahiran kembali yang menyedihkan terbuka sangat lebar. Sekali terjerumus ke alam-alam bawah atau alam binatang maka membutuhkan waktu yang sangat lama untuk dapat mencapai wujud manusia lagi.
Itulah sebabnya orang-orang suci dari berbagai jaman, telah dan akan selalu memperingatkan kita melalui ajaran dharma untuk tidak terjerumus dan dapat keluar dari jalur keberadaan yang sangat sulit untuk dipikul. Hukum karma merupakan hukum alam semesta terkait kehidupan yang merupakan kebenaran universal yang berlaku sama untuk semua mahluk hidup. Kondisi ini tidak dapat dipungkiri, tidak dapat dielakkan dan berlaku abadi sepanjang masa. Entah setiap mahluk mengetahuinya atau tidak, mempercayainya atau tidak, dia tetap akan terikat oleh hukum-hukum alam semesta yang pasti ini.
Dan sangat berbeda dengan apa yang ingin dipercaya umum, orang-orang suci dari berbagai jaman menyebutkan, “mereka yang melakukan pelanggaran dharma karena tidak mengetahui tentang ajaran dharma dan dinamika hukum karma, maka karma buruknya lebih berat, dibandingkan mereka yang melakukan pelanggaran dharma tapi mengetahuinya”. Laksana memegang besi panas berapi-api, yang memegangnya dengan sengaja dan yang memegangnya dengan tidak sengaja karena tidak tahu, manakah yang lebih terbakar ? Itulah sebabnya orang-orang suci dari berbagai jaman, telah dan akan selalu memperingatkan kita melalui ajaran dharma untuk tidak terjerumus dan dapat keluar dari jalur keberadaan yang sangat sulit untuk dipikul. Perjalanan kehidupan ini umumnya bergerak dalam siklus naik-turun, kadang bahagia dan kadang ada masalah. Bahkan terkadang perjalanan kehidupan ini penuh dengan riak-riak masalah. Setiap masalah yang datang dalam kehidupan adalah bagian dari fenomena hukum karma, yang harus kita terima dan hadapi dengan lapang dada, serta kita selesaikan dengan upaya sebaik-baiknya.
Mantra Yoga beserta sadhana-sadhana pendukungnya bisa ditempuh sebagai jalan paling sederhana untuk mencapai kesadaran diri [atma-jnana] dan pembebasan dari roda samsara. Terutama bagi masyarakat awam, atau orang yang pengetahuan dharma-nya terbatas, atau orang yang kurang cocok menggunakan tehnik yang rumit-rumit. Karena Mantra Yoga cukup sederhana. Tidak diperlukan pengetahuan dharma yang luas atau tehnik yang rumit. Asalkan punya kesungguhan hati, tekun dan disiplin, pasti akan memperoleh keberhasilan.

Video Agama Hindu

Upacara Perkawinan Umat Hindu


Aturan pernikahan umat hindu harus sesuai dengan kitab Sruti maupun Smrti sementara tata cara disesuaikan dengan adat dan kebiasaan daerah setempat yang sudah menjadi hukum sejak turun temurun.
Dengan melakukan perkawinan yang berlandaskan agama dan tata cara adat setempat akan didapatkan kabahagiaan di dunia ini serta kebahagiaan yang kekal abadi.
Dalam pandangan umat hindu perkawinan merupakan ikatan lahir batin sekala niskala antara seorang pria dengan seorang wanita untuk membentuk keluarga bahagia dan kekal yang diakui oleh hukum Negara, agama, maupun adat.
Menurut pandangan hindu manusia selain sebagai makhluk individu juga sebagai makhluk sosial sehingga mereka harus hidup bersama-sama guna mencapai tujuan-tujuan tertentu.
Tuhan yang telah menciptakan manusia berlainan jenis kelamin yang nantinya dengan kesadaran penuh mampu menempatkan perannya masing-masing dari kodratnya ini maka antara pria dan wanita akan tumbuh naluri jatuh cinta untuk saling mencintai dan saling membutuhkan dalam segala bidang.
Sebagai wujud nyata dari rasa diantara mereka berdua, akan diawali dengan proses perkawinan yang merupakan peristiwa suci dan kewajiban bagi umat hindu untuk melanjutkan catur asramonya.
Didalam kitab suci telah pula dijelaskan untuk menjadi ibu, wanita diciptakan dan juga untuk menjadi ayah pria diciptakan. Upacara keagamaan karna itu ditetapkan didalam Veda untuk dilakukan oleh suami dan istri. Dibagian lain juga dijelaskan bahwa hubungan yang setia berlangsung sampai mati , singkatnya ini harus dianggap sebagai hukum tertinggi sebagai suami istri.
Dan juga ditekankan bahwa pada keluarga dimana suami berbahagia dengan istrinya dan demikian pula sang istri terhadap suaminya, kebahagiaan pasti kekal.
Untuk lebih jelasnya silahkan Klik video di bawah ini:



1   Umat Hindu Rayakan Holi di India

Perayaan Holi yang dilaksanakan oleh masyarakat India di Kuil hindu Makaleswar Jutirlingga dikota Ujain India. Umat dari berbagai daerah semua berdatangan kekuil untuk menyaksikan semua ritual. Pendeta memberi persembahan dan berdoa di kuil Dewa Siwa dan segera setelah ritual mereka merayakan holi dengan percikan warna di kuil.
Mahakaleswar besar adalah Raja Afandika disini holi juga dirayakan dan megah. Pertama, tuhan disembah dengan Basmarti atau ibadah dengan lampu tradisional , setelahnya orang-orang melempar warna pada tuhan. Pendeta melakukan holi dengan tuhan dan juga umat. Festival ini dirayakan dengan cara tradisional.
Menurut metologi Hindu Dewa Siwa sang Raja dlunya tinggal di Kerajaan ini. Kuil terbentuk sendiri dengan kekuatan Tuhan dan dipercaya bahwa mereka yang berdoa padanya dengan bentuk ini akan dibebaskan dari rasa takut akan kematian dan penyakit.
Festival Holi yang dirayakan ini membawa orang-orang bersama dalam tarian dan warna. Ini adalah festival yang sangat ditunggu-tunggu oleh para umat Hindu terutama kaum mudanya. Holi menandai akhir dari musim dingin dan munculnya musim semi dengan janji hari musim panas yang cerah harapan suka cita.
Untuk melihat gimana perayaan tersebut anda bisa klik video dibawah ini:


Sejarah Hindu - Nusantara dalam Kitab Suci Veda Ramayana

Dalam kitab Suci Veda Mahabarata dinyatakan bahwa kepulauan Nusantara adalah bagian dari kerajaan besar. Pangeran Sutasoma putra Bimasena adalah penguasa pulau Jawa pada zaman Mahabarata, sehingga kepulauan Nusantara bergabung dipihak pandawa. Ada berbagai penulis dan penyair yang mengubah perjalanan Tuhan Srirama menjadi Syair-syair yang baik nan indah.
Terdapat tujuh bagian dalam Kitab Suci Veda Ramayana yakni:
a.       Balakanda
b.      Ayudiakanda
c.       Araniakakanda
d.      Kiskindakanda
e.       Sundarakanda
f.       Yudakanda
g.      Utarakanda.
Sangat menarik sejarah Hindu-Nusantara ini, untuk lebih jelas dan pastinya penasan silahkan di klik disini.


(Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=KaSuyCkJrjQ&t=1s)



Goa Gajah - Harmonisasi Agama Hindu dan Buddha di Pulau Dewata



Peninggalan sejarah Hindu dan Buddha, Goa Gajah adalah sebuah tempat wisata dengan nilai sejarah dan spiritual. Kawasan goa kuno ini berjarak sekita 27 km dari pusat Kota Denpasar. Kata Goa Gajah dipercaya berasal dari sebuah kata yang muncul didalam kitab Negara Kertagama “LWA GAJAH”. Goa ini dibangun sekitar abad ke-11 M saat Raja Sriastasura Ratna Bumi Banten sedang bertahta, dahulu tempat ini digunakan oleh beliau untuk bertapa. Selai  itu adapula tujuh kolam suci dengan tujuh patung bidadari yang memancarkan air disekitar goa, patung-patung ini adalah symbol dari tujuh sungai suci tempat lahirnya agama Hindu dan Budda yang ada di India. 
Inilah latar belakang dari Goa Gajah yang terletak di kawasan Denpasar. Ini hanya gambaran sekilas, untuk lebih jelas dan detailnya silahkan klik videonya.



  Umat Hindu Bali Rayakan Hari Raya Galungan

     Di antara banyak tradisi, masyarakat Bali melakukan pemotongan ribuan ekor babi secara massal tepat sehari sebelum Hari Suci Galungan. Babi-babi itu telah dipersiapkan sebelumnya di masing-masing dusun, termasuk di dalamnya pedesaan Kabupaten Tabanan, Badung dan Gianyar.Babi yang siap potong dengan berat di atas 100 kilogram/ekor tersedia hampir secara merata di delapan kabupaten dan satu kota di Bali. Pemerintah Kabupaten Tabanan mengaku telah menjamin stabilitas harga daging babi seiring dengan meningkatnya kebutuhan umat Hindu menjelang Hari Raya Galungan.

      Berikut perayaan Galungan Umat Hindu




Puasa Enam Hari Syawal Bolehkah berpuasa Syawal sebelum mengqhada’ puasa Ramadhan? Diriwayatkan dari Abu Ayyub al-Anshari, Nabi Saw. ber...